BAGAIMANA BERBICARA PADA ANAK BAGIAN II
Menyambung uraian terdahulu
Tetapi ini semua tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Semua akan memerlukan waktu. Mulailah dengan melihat hal-hal pada diri anak Anda yang benar-benar diketahui sebagai kebaikan. Anda harus mulai dari posisi anak. Secara berangsur-angsur dengan membangun harga diri anak, orangtua akan memberinya motivasi untuk memperlihatkan betapa baiknya dirinya. Dan setelah dia berbuat begitu, jangan sampai lupa memberinya imbalan berupa puian untuk usahanya.
Percakapan penuh kasih sayang menciptakan suasana kerjasama yang bahagia antara orangtua dan anak. Sering-seringlah mengatakan kepadanya seperti misalnya,"Pekerjaan yang bagus sekali," "Itu pintar sekali," "Lakukan lagi agar Papa bisa melihat!"
Percakapan penuh kasih sayang bisa jauh lebih efektif kalau kadang-kadang diperkuat dengan imbalan yang nyata. Beri kesempatan anak memperlihatkan pengertiannya mengapa ia diberi imbalan. Sebagai contoh, orangtua bisa berkata kepadanya sambil tersenyum,"Kau bisa menduga mengapa Papa mengajakmu jalan-jalan?" Dengan gembira anak akan menjawab,"Karena aku dapat menyelesaikan tugasku!" "Betul! Kau mendapat hadiah istimewa karena caramu yang baik menjaga adikmu yang masih bayi."
Yang paling penting dalam berkomunikasi antara orangtua dengan anak adalah kemampuan orangtua berbicara dengan cara yang relatif bebas dan jujur, karena ketidakpercayaan dan kecurigaan akan tumbuh antara orangtua dan anak. Dan pembicaraan orangtua dan anak tidak harus selalu mengenai hal-hal yang menyenangkan, polos dan tidak penting. Karenanya, jangan membatasi anak untuk mengatakan hal-hal yang ingin orangtua dengar. Jika orangtua membatasi anak untuk hal-hal tertentu, maka orangtua akan kehilangan kepercayaan anak dan akan timbul kerenggangan emosional, sebuah batas dan jarak diantara orangtua dan anak.
Sebagai orangtua yang baik dan bijaksana, sebaiknya tidak menindas atau menekan hak anak untuk menyatakan perasaannya dengan memperlakukannya dengan sikap merendahkan, menghina, rasa tidak percaya atau sikap unggul dan meremehkan. Oleh karena itu beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, baik negatif maupun positif. Dengan demikian anak akan mengalami semua perasaan kemanusiaannya seperti cinta, benci, cemburu, marah, gembira, sedih dan semua perasaan lainnya.
Memang orangtua tidak harus mengiyakan semua yang dikatakan atau dirasakan anak, tetapi orangtua mempuyai kewajiban menimal mengakui haknya menyatakan perasaan. Biar anak selalu aman untuk menemui orangtuanya dan mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Akhirnya anak akan selalu dapat bergantung pada orangtuanya dan untuk membuatnya merasa berharga sebagai anak-anak, sebagai manusia dan sebagai individu
(Dr.A. Joseph Burstein)
READ MORE
Tetapi ini semua tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Semua akan memerlukan waktu. Mulailah dengan melihat hal-hal pada diri anak Anda yang benar-benar diketahui sebagai kebaikan. Anda harus mulai dari posisi anak. Secara berangsur-angsur dengan membangun harga diri anak, orangtua akan memberinya motivasi untuk memperlihatkan betapa baiknya dirinya. Dan setelah dia berbuat begitu, jangan sampai lupa memberinya imbalan berupa puian untuk usahanya.
Percakapan penuh kasih sayang menciptakan suasana kerjasama yang bahagia antara orangtua dan anak. Sering-seringlah mengatakan kepadanya seperti misalnya,"Pekerjaan yang bagus sekali," "Itu pintar sekali," "Lakukan lagi agar Papa bisa melihat!"
Percakapan penuh kasih sayang bisa jauh lebih efektif kalau kadang-kadang diperkuat dengan imbalan yang nyata. Beri kesempatan anak memperlihatkan pengertiannya mengapa ia diberi imbalan. Sebagai contoh, orangtua bisa berkata kepadanya sambil tersenyum,"Kau bisa menduga mengapa Papa mengajakmu jalan-jalan?" Dengan gembira anak akan menjawab,"Karena aku dapat menyelesaikan tugasku!" "Betul! Kau mendapat hadiah istimewa karena caramu yang baik menjaga adikmu yang masih bayi."
Yang paling penting dalam berkomunikasi antara orangtua dengan anak adalah kemampuan orangtua berbicara dengan cara yang relatif bebas dan jujur, karena ketidakpercayaan dan kecurigaan akan tumbuh antara orangtua dan anak. Dan pembicaraan orangtua dan anak tidak harus selalu mengenai hal-hal yang menyenangkan, polos dan tidak penting. Karenanya, jangan membatasi anak untuk mengatakan hal-hal yang ingin orangtua dengar. Jika orangtua membatasi anak untuk hal-hal tertentu, maka orangtua akan kehilangan kepercayaan anak dan akan timbul kerenggangan emosional, sebuah batas dan jarak diantara orangtua dan anak.
Sebagai orangtua yang baik dan bijaksana, sebaiknya tidak menindas atau menekan hak anak untuk menyatakan perasaannya dengan memperlakukannya dengan sikap merendahkan, menghina, rasa tidak percaya atau sikap unggul dan meremehkan. Oleh karena itu beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, baik negatif maupun positif. Dengan demikian anak akan mengalami semua perasaan kemanusiaannya seperti cinta, benci, cemburu, marah, gembira, sedih dan semua perasaan lainnya.
Memang orangtua tidak harus mengiyakan semua yang dikatakan atau dirasakan anak, tetapi orangtua mempuyai kewajiban menimal mengakui haknya menyatakan perasaan. Biar anak selalu aman untuk menemui orangtuanya dan mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. Akhirnya anak akan selalu dapat bergantung pada orangtuanya dan untuk membuatnya merasa berharga sebagai anak-anak, sebagai manusia dan sebagai individu
(Dr.A. Joseph Burstein)
BAGAIMANA BERBICARA PADA ANAK BAGIAN I
Banyak orangtua yang mengalami kesulitan ketika dia harus berbicara kepada anaknya. Bahkan ada orangtua yang tidak bisa menjalin komunikasi verbal dengan anaknya, karena tidak tahu harus mulai dari mana. Padahal berbicara dengan anak akan sangat menentukan jenis hubungan antara orangtua dengan anaknya.
Banyak orangtua yang gagal untuk membuat anaknya mau mendengarkan karena mereka tidak menguasai seni berbicara yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, orangtua ketika berbicara padanya seperti komandan perang yang memerintahkan pada anak buahnya.
Separti seorang ibu yang mengalami kesulitan berbicara dengan anaknya."Anisa tidak mau mendengarkan kata-kata saya, karenadia berpikir boleh berbuat sesuka hatinya dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia nakal sekali dan pada suatu hari kelak ia akan menyesal karena begitu keras kepala,"demikian keluhan seorang ibu pada seorang psikolog. Tetapi anaknya berteriak membantahnya,"Itu tidak benar!"
Menurut para ahli, anak itu tidak akan berubah menjadi lebih baik sebelum orangtua mengubah kebiasaan lama dengan berbicara penuh penolakan dengan berbicara penuh kasih sayang.
Anak akan menolak apa yang dikatakan oleh orangtuanya karena sikap orangtua yang menyakitkan dan menunjukkan penolakan kepadanya sebagai pribadi. Dengan berbicara yang bersifat penolakan berarti orangtua telah merongrong harga diri dan citra diri anak. Separti kata-kata;"Apa kau tuli......," Aku sudah bilang ratusan kali......," Aku sudah bosan mengatakan kepadamu.....," dan sebagainya.
Cara ibu di atas berbicara kepada anaknya dengan sikap yang menyalahkan, menanamkan moral dan merendahkan dan tidak mengherankan kalau si gadis cilik itu merasa kesal. Cara ibunya berbicara membangkitkan kemarahan dan menyinggung perasaannya.
Jika anak Anda tidak mau mendengarkan sampai ke permintaan Anda yang paling masuk akal, maka Anda pasti akan marah. Tetapi yang penting sekali adalah mencari pemecahan masalah, bukan meyerang anak yang merusak harga dirinya.
Kebanyakan orang membuat kesalahan dengan menggunakan percakapan 'kau' dan bukannya percakapan 'aku'. Seperti,"Kau tolol sekali.....,"Kau selalu harus diberi tahu...." Kata-kata itu diterima anak dengan kebencian dan dia merasa harga dirinya disakiti, maka anak tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan orangtuanya, melainkan kemarahan yang muncul dalam diri anak.
Memang adakalanya orangtua harus menyatakan kemarahan kepada anak atas perbuatannya. Mungkin orangtua benar kalau dalam kesempatan itu menyatakan kemarahan, tetapi hali itu harus dilakukan tanpa menyerang harga diri anak.
Lindungilah perasaan anak dengan menggunakan pernyataan 'aku'. "Aku kesal sekali.....,""Aku merasa kesal kalau kau melakukan itu....," dan sebagainya. Dengan pernyataan itu, kepribadian dan harga diri anak tetap utuh dan anak benar-benar bisa mendengarkan penuh perhatian apa yang orangtua katakan. Anak bisa berbuat begitu karena percakapan 'aku' bukan percakapan 'kau' dipakai orangtua sehingga anak tidak tersinggung harga dirinya. Bila hal ini terwujud, maka jalur komunikasi dengan anak terbuka dan meyenangkan.
Ubahlah perilaku anak dari negatif menjadi positif. Lakukanlah ini dengan banyak penggunaan percakapan penuh kasih sayang. Orangtua harus menangkap basah anak ketika sedang melakukan kebaikan, bukan keburukan. Itulah anak Anda dengan padangan positif bukan negatif.
READ MORE
Banyak orangtua yang gagal untuk membuat anaknya mau mendengarkan karena mereka tidak menguasai seni berbicara yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, orangtua ketika berbicara padanya seperti komandan perang yang memerintahkan pada anak buahnya.
Separti seorang ibu yang mengalami kesulitan berbicara dengan anaknya."Anisa tidak mau mendengarkan kata-kata saya, karenadia berpikir boleh berbuat sesuka hatinya dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia nakal sekali dan pada suatu hari kelak ia akan menyesal karena begitu keras kepala,"demikian keluhan seorang ibu pada seorang psikolog. Tetapi anaknya berteriak membantahnya,"Itu tidak benar!"
Menurut para ahli, anak itu tidak akan berubah menjadi lebih baik sebelum orangtua mengubah kebiasaan lama dengan berbicara penuh penolakan dengan berbicara penuh kasih sayang.
Anak akan menolak apa yang dikatakan oleh orangtuanya karena sikap orangtua yang menyakitkan dan menunjukkan penolakan kepadanya sebagai pribadi. Dengan berbicara yang bersifat penolakan berarti orangtua telah merongrong harga diri dan citra diri anak. Separti kata-kata;"Apa kau tuli......," Aku sudah bilang ratusan kali......," Aku sudah bosan mengatakan kepadamu.....," dan sebagainya.
Cara ibu di atas berbicara kepada anaknya dengan sikap yang menyalahkan, menanamkan moral dan merendahkan dan tidak mengherankan kalau si gadis cilik itu merasa kesal. Cara ibunya berbicara membangkitkan kemarahan dan menyinggung perasaannya.
Jika anak Anda tidak mau mendengarkan sampai ke permintaan Anda yang paling masuk akal, maka Anda pasti akan marah. Tetapi yang penting sekali adalah mencari pemecahan masalah, bukan meyerang anak yang merusak harga dirinya.
Kebanyakan orang membuat kesalahan dengan menggunakan percakapan 'kau' dan bukannya percakapan 'aku'. Seperti,"Kau tolol sekali.....,"Kau selalu harus diberi tahu...." Kata-kata itu diterima anak dengan kebencian dan dia merasa harga dirinya disakiti, maka anak tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan orangtuanya, melainkan kemarahan yang muncul dalam diri anak.
Memang adakalanya orangtua harus menyatakan kemarahan kepada anak atas perbuatannya. Mungkin orangtua benar kalau dalam kesempatan itu menyatakan kemarahan, tetapi hali itu harus dilakukan tanpa menyerang harga diri anak.
Lindungilah perasaan anak dengan menggunakan pernyataan 'aku'. "Aku kesal sekali.....,""Aku merasa kesal kalau kau melakukan itu....," dan sebagainya. Dengan pernyataan itu, kepribadian dan harga diri anak tetap utuh dan anak benar-benar bisa mendengarkan penuh perhatian apa yang orangtua katakan. Anak bisa berbuat begitu karena percakapan 'aku' bukan percakapan 'kau' dipakai orangtua sehingga anak tidak tersinggung harga dirinya. Bila hal ini terwujud, maka jalur komunikasi dengan anak terbuka dan meyenangkan.
Ubahlah perilaku anak dari negatif menjadi positif. Lakukanlah ini dengan banyak penggunaan percakapan penuh kasih sayang. Orangtua harus menangkap basah anak ketika sedang melakukan kebaikan, bukan keburukan. Itulah anak Anda dengan padangan positif bukan negatif.
JANGAN BERPACARAN
"Janganlah kamu mendekati perzinahan, karena zina itu dalah perbuatan yang keji.." (Q.S. Al Isra:32)
Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam islam. Yang ada dalam Islam ada yang disebut "Khitbah" atau masa tunangan. Masa tunangan ini adalah masa perkenalan. Sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan mempunyai dampak seperti putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya bloeh bertemu dan berbincang-bincang di tepat yang aman, maksudnya ada orang ketiga mesipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.
Mengapa Pacaran itu Haram?
Karena pacaran itu membawa kepada perzinahan. Dimana zina adalah termasuk dosa besar dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Alloh. Oleh karena itu ayatnya berbunyi demikian : "Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji…"(Q.S Al-Isra:32)
Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, tetapi jangan mendekati, mengapa ?
Karena biasanya orang yang berizina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian berbuat zina yang terkutuk itu.
Pencegahan
Dalam hukum Islam umumnya, manakala sesuatu itu diharamkan maka segala sesuatu yang berhubungan dengan yang diharamkan itu diharamkan juga. Seperti minum arak, bukan hanya minumnya yang diharmkan tapi juga yang memproduksinya, yang menjualnya, yang membelinya, yang duduk bersama orang minum, dsb.
Demikian halnya dengan masalah zina. Oleh karena itu aka syari'at Islam memberikan tuntutan pencegahan dari perbuatan zina, karena Alloh Maha Tahu tentang kelemahan manusia.
READ MORE
Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam islam. Yang ada dalam Islam ada yang disebut "Khitbah" atau masa tunangan. Masa tunangan ini adalah masa perkenalan. Sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan mempunyai dampak seperti putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya bloeh bertemu dan berbincang-bincang di tepat yang aman, maksudnya ada orang ketiga mesipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.
Mengapa Pacaran itu Haram?
Karena pacaran itu membawa kepada perzinahan. Dimana zina adalah termasuk dosa besar dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Alloh. Oleh karena itu ayatnya berbunyi demikian : "Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji…"(Q.S Al-Isra:32)
Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, tetapi jangan mendekati, mengapa ?
Karena biasanya orang yang berizina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian berbuat zina yang terkutuk itu.
Pencegahan
Dalam hukum Islam umumnya, manakala sesuatu itu diharamkan maka segala sesuatu yang berhubungan dengan yang diharamkan itu diharamkan juga. Seperti minum arak, bukan hanya minumnya yang diharmkan tapi juga yang memproduksinya, yang menjualnya, yang membelinya, yang duduk bersama orang minum, dsb.
Demikian halnya dengan masalah zina. Oleh karena itu aka syari'at Islam memberikan tuntutan pencegahan dari perbuatan zina, karena Alloh Maha Tahu tentang kelemahan manusia.
- Dilarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk berdua-duaan. Nabi bersabda,"Apabila laki-laki dan perempuan yang bukan mahram erdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan." Setan juga pernah mengatakan kepada nabi Musa as bahwa apabila laki-laki dan perempuan berdua-duaan maka aku akan menjadi utusan keduanya untuk menggoda mereka.
- Harus menjaga mata atau pandangan. Sebab mata itu kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Alloh berfirman,"Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan mereka (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka. Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka (dari yang haram) dan menjaga pandangan mereka. Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka."(Q.S An Nuur:30-31)
- Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat mereka dan dilarang mereka untuk memakai pakian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadits dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, memakai wangi-wangian baunya semserbak, memakai make up, dsb setiap langkahnya dikutuk oleh para malaikat dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari qiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium bau surga (apalagi masuk surga).
- Dengan ancaman bagi yang berpacaran atau berbuat zina. Mislanya Nabi bersabda,"Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya)."
- Sebagaimana kita yakini sebagai seorang muslim bahwa segala sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, mesti mempunyai dampak yang negatif di masyarakat. Oleh karena itu jalan keluarnya bagi anak-anak muda yang tidak kuat menahan
- Kawin, supaya bisa menjaga mata dan kehormatan
- Kalau belum siap, banyaklah puasa dan olah raga
- Jauhkan mata dan telinga dari segala sesuatu yang akan membangkitkan syahwat.
- Dekatkan diri dengan Alloh dengan banyak membaca Al Quran dan merenungkan artinya. Berdzikir, baca sholawar, sholat berjamaah di Masjid. Hadiri pengajian dan berkawan yang sholeh yang selalu mengingatkan kepada jalan yang lurus.
- Dan ingat bahwa Alloh telah menjanjikan kepada para anak muda yang sabar menahan pacaran dan zina yaitu bidadari, yang kalau satu diantaranya menampakkan wajahnya ke alam dunia ini, setiap laki-laki yang memandanganya pasti akan jatuh pingsan.
MENGATASI ANAK SULIT MAKAN
Anak sulit makan biasanya mempunyai kecenderungan hanya memilih makanan yang itu-itu saja. Fenomena ini biasa disebut picky eater (pilih-pilih makanan). Berbagai upaya dilakukan sang anak untuk menunjukkan ketidaksenangannya, misalnya dengan cara mengemut-emut dan mempermainkan makanan, bahkan memuntahkannya.
Masalah pilih-pilih makanan ini dapat muncul secara psikologis, dan disebabkan oleh berbagai hal :
1. Anak meniru perilaku makan anggota keluarga. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang melakukan diet, cenderung menirukan perilaku tersebut. Begitu pula misalnya, bila kedua orangtua anak memilih hidup vegetarian, perilaku ini akan ditiru anak. Bila kebetulan pola makan yang dijalani orangtua "kurang sehat", pemenuhan gizi anakpun bisa terganggu.
2. Sikap orangtua yang terlalu memaksakan kehendak terhadap anak. Tentang apa yang harus dimakan dan porsi makannya. Contohnya perilaku orangtua yang mengharuskan anak untuk selalu menghabiskan makanannya. Maksudnya mungkin baik, tapi secara psikologis hal ini bisa mengakibatkan anak tertekan, karena anak juga ingin diakui egonya. Akibatnya, gizi anak tidak tercukupi dan pertumbuhan anak menjadi terhambat.
Perlu diigat : masalah makan bukan semata-mata persoalan gizi tapi juga unsur psikologis!
3. Orang tua mudah memberikan jajanan padat kalori seperti permen, minuman ringan, coklat dsb untuk menenangkan anak yang sedang rewel. Akibatnya, anak yang sudah mengkonsumsi makanan padat kalori akan merasa kenyang sehingga tidak mau makan lagi.
Beberapa cara yang bisa jadi panduan untuk mengatasi anak yang sulit makan :
1. Ciptakan suasana menyenangkan pada waktu makan. Jangan sampai muncul pemaksaan yang menimbulkan kesan bahwa saat makan merupakan saat yang menyebalkan atau menjengkelkan bahkan hukuman
2. Biasakan pula untuk mengadakan acara makan bersama. Anak senang melihat orang lain makan sehingga ia terangsang untuk makan lebih banyak.
3. Biasakan anak untuk makan sendiri alias mandiri. Anak balita yang biasa disuapi atau makan bersama pembantu boleh jadi akan hilang atau kurang nafsu makannya ketika ketika harus disuapi atau makan bersama ibunya.
4. Kembangkan susana sosial yang seimbang dalam rumah tangga sehingga si anak merasa dekat dengan semua anggota keluarga sehingga mau makan dengan siapa saja.
5. Jangan biasakan menuruti semua keinginan anak seperti memberikan permen, minuman/ makanan ringan, coklat, jely dan lain sebagainya.
6. Kembangkan sikap tegas, terbuka dan logis (bisa diterima akal sehat anak) ketika menolak permintaannya. Misalnya dengan mengatakan bahwa makan coklat bisa merusak gigi dan sebagainya. Anda bisa menawarkan puding buah susu.
7. Jangan membiasakan anak mengkonsumsi makanan pembuka atau selingan yang tinggi kandungan kalorinya menjelang waktu makan utama. Akibatnya, anak akan merasa kenyang sebelum waktu makan tiba.
8. Usahakan anak Anda mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna. Atau bisa juga dengan segelas susu, yogurt atau seiris keju sebagai pengganti minimal kebutuhan kalsium tubuh bagi pertumbuhan tulang dan gigi.
9. Biasakan anak selalu makan pagi, hal ini dapat menghindarkan kebiasaan jajan.
10. Biasakan memberikan bekal makanan ke sekolah. Berikan pengertian makanan yang dibawa lebih sehat dan bergizi daripada yang mereka beli di sembarang tempat.
11. Beri contoh positif pada anak. Anak-anak cenderung meniru kebiasaan dan tingkah laku orang-orang terdekatnya. Jangan pernah berharap anak mau menghentikan kebiasaan jajan jika setiap sore hari Anda sendiri tak pernah absen mencegat tukang mie ayam yang lewat di depan rumah.
12. Kalau memang tidak terpaksa, jangan biasakan anak membeli makanan siap saji. Makanan ini kurang seimbang komposisi kandungan gizinya lantaran terlalu banyak lemak dan kalorinya.
(Trisno Haryanto)
READ MORE
Masalah pilih-pilih makanan ini dapat muncul secara psikologis, dan disebabkan oleh berbagai hal :
1. Anak meniru perilaku makan anggota keluarga. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang melakukan diet, cenderung menirukan perilaku tersebut. Begitu pula misalnya, bila kedua orangtua anak memilih hidup vegetarian, perilaku ini akan ditiru anak. Bila kebetulan pola makan yang dijalani orangtua "kurang sehat", pemenuhan gizi anakpun bisa terganggu.
2. Sikap orangtua yang terlalu memaksakan kehendak terhadap anak. Tentang apa yang harus dimakan dan porsi makannya. Contohnya perilaku orangtua yang mengharuskan anak untuk selalu menghabiskan makanannya. Maksudnya mungkin baik, tapi secara psikologis hal ini bisa mengakibatkan anak tertekan, karena anak juga ingin diakui egonya. Akibatnya, gizi anak tidak tercukupi dan pertumbuhan anak menjadi terhambat.
Perlu diigat : masalah makan bukan semata-mata persoalan gizi tapi juga unsur psikologis!
3. Orang tua mudah memberikan jajanan padat kalori seperti permen, minuman ringan, coklat dsb untuk menenangkan anak yang sedang rewel. Akibatnya, anak yang sudah mengkonsumsi makanan padat kalori akan merasa kenyang sehingga tidak mau makan lagi.
Beberapa cara yang bisa jadi panduan untuk mengatasi anak yang sulit makan :
1. Ciptakan suasana menyenangkan pada waktu makan. Jangan sampai muncul pemaksaan yang menimbulkan kesan bahwa saat makan merupakan saat yang menyebalkan atau menjengkelkan bahkan hukuman
2. Biasakan pula untuk mengadakan acara makan bersama. Anak senang melihat orang lain makan sehingga ia terangsang untuk makan lebih banyak.
3. Biasakan anak untuk makan sendiri alias mandiri. Anak balita yang biasa disuapi atau makan bersama pembantu boleh jadi akan hilang atau kurang nafsu makannya ketika ketika harus disuapi atau makan bersama ibunya.
4. Kembangkan susana sosial yang seimbang dalam rumah tangga sehingga si anak merasa dekat dengan semua anggota keluarga sehingga mau makan dengan siapa saja.
5. Jangan biasakan menuruti semua keinginan anak seperti memberikan permen, minuman/ makanan ringan, coklat, jely dan lain sebagainya.
6. Kembangkan sikap tegas, terbuka dan logis (bisa diterima akal sehat anak) ketika menolak permintaannya. Misalnya dengan mengatakan bahwa makan coklat bisa merusak gigi dan sebagainya. Anda bisa menawarkan puding buah susu.
7. Jangan membiasakan anak mengkonsumsi makanan pembuka atau selingan yang tinggi kandungan kalorinya menjelang waktu makan utama. Akibatnya, anak akan merasa kenyang sebelum waktu makan tiba.
8. Usahakan anak Anda mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna. Atau bisa juga dengan segelas susu, yogurt atau seiris keju sebagai pengganti minimal kebutuhan kalsium tubuh bagi pertumbuhan tulang dan gigi.
9. Biasakan anak selalu makan pagi, hal ini dapat menghindarkan kebiasaan jajan.
10. Biasakan memberikan bekal makanan ke sekolah. Berikan pengertian makanan yang dibawa lebih sehat dan bergizi daripada yang mereka beli di sembarang tempat.
11. Beri contoh positif pada anak. Anak-anak cenderung meniru kebiasaan dan tingkah laku orang-orang terdekatnya. Jangan pernah berharap anak mau menghentikan kebiasaan jajan jika setiap sore hari Anda sendiri tak pernah absen mencegat tukang mie ayam yang lewat di depan rumah.
12. Kalau memang tidak terpaksa, jangan biasakan anak membeli makanan siap saji. Makanan ini kurang seimbang komposisi kandungan gizinya lantaran terlalu banyak lemak dan kalorinya.
(Trisno Haryanto)
CARA JITU MEMACU PRESTASI ANAK
Anda tentu boleh saja memacu anak agar selalu berprestasi. Tapi jangan sampai prestasi itu adalah obsesi Anda. Yang dulunya tidak terpenuhi. Juga jangan sampai anak terpaksa melakukannya. Karena hukuman yang acap Anda ancamkan. Karena itu, Anda wajib memahami kiatnya, yang sederhana.
Memacu anak berprestasi wajib hukumnya. Tapi ingat, perlu kiat yang jelas agar prestasi itu sendiri bukan obsesi Anda, tapi menjadi kebutuhan anak. Caranya ? Jangan ancam dia dengan hukuman. Karena ini tak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya ajari dia dengan cinta. Atau, ikuti tips kami berikut ini :
Cinta Kasih
Ini menjadi kunci awal ketika Anda menuntut anak. Harus ada kasih dan penerimaan penuh. Ini penting, sehingga sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih Anda yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap Anda kasihi, meski ia belum tentu mampu meraih keinginan Anda. Tanpa keraguan anak dapat berkata behwa cinta kasih Anda terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa Anda telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan, cinta kasih.
Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orang tua, bukan untuk mendapatkan kasih orang tua.
Arah yang jelas
Arahan Anda harus jelas dan spesifik. Tidak jarang Anda melakukan kesalahan umum. Misalnya, menuntut anak menjadi baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tunggi, dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas justru membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa yang Anda tuntut. Sehingga ia tahu yang harus dilakukannya.
Anak akan lebih dapat memahami tuntutan orang tua apabila tuntutan itu dijabarkan spesifik. Daripada berkata, lebih rajin dan lebih pintar. Mungkin lebih baik Anda memintanya menambah jam belajar atau menyelesaikan tugas sekolah, sebelum bermain. Ketimbang menuntutnya berprestasi lebih tinggi. Anda bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Anda bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya meraih nilai 7. Tentunya Anda hindari nada terpaksa.
Realistis
Anda harus realistis dengan kemampuan anak. Untuk memacu prestasi anak, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit diatas kemampuan anak. Tuntutan yang dibawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan diri. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak akan mengecilkan semangat. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam kemampuan. Jika tidak ia justru ngambek. Jadi yang penting ialah memahami kemampuan dan minatnya. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang realistis. Tuntutan yang tidak realistis justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.
Jangan Ambisius
Anda tak perlu ambisius. Sikap itu justru akan melelahkan Anda dan membebani anak. Ada dua kesalahan umum dilakukan oleh orang tua, termasuk Anda. Pertama menuntut anak seperti dirinya dan kedua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acap diperbuat oleh orang tua yang memiliki kemampuan tertentu. Masalahnya adalah, tidak selalu anak mewarisi bakat orang tua dan tidak semua anak mempunyai minat sama dengan orang tuanya.
Kesalahan kedua acap terjadi pada orang tua yang merasa dirinya kurang atau ada cacatnya. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangan agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Tetapi masalahnya adalah belum tentu anaknya berminat. Maka hindari pemaksaan.
READ MORE
Memacu anak berprestasi wajib hukumnya. Tapi ingat, perlu kiat yang jelas agar prestasi itu sendiri bukan obsesi Anda, tapi menjadi kebutuhan anak. Caranya ? Jangan ancam dia dengan hukuman. Karena ini tak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya ajari dia dengan cinta. Atau, ikuti tips kami berikut ini :
Cinta Kasih
Ini menjadi kunci awal ketika Anda menuntut anak. Harus ada kasih dan penerimaan penuh. Ini penting, sehingga sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih Anda yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap Anda kasihi, meski ia belum tentu mampu meraih keinginan Anda. Tanpa keraguan anak dapat berkata behwa cinta kasih Anda terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa Anda telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan, cinta kasih.
Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orang tua, bukan untuk mendapatkan kasih orang tua.
Arah yang jelas
Arahan Anda harus jelas dan spesifik. Tidak jarang Anda melakukan kesalahan umum. Misalnya, menuntut anak menjadi baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tunggi, dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas justru membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa yang Anda tuntut. Sehingga ia tahu yang harus dilakukannya.
Anak akan lebih dapat memahami tuntutan orang tua apabila tuntutan itu dijabarkan spesifik. Daripada berkata, lebih rajin dan lebih pintar. Mungkin lebih baik Anda memintanya menambah jam belajar atau menyelesaikan tugas sekolah, sebelum bermain. Ketimbang menuntutnya berprestasi lebih tinggi. Anda bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Anda bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya meraih nilai 7. Tentunya Anda hindari nada terpaksa.
Realistis
Anda harus realistis dengan kemampuan anak. Untuk memacu prestasi anak, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit diatas kemampuan anak. Tuntutan yang dibawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan diri. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak akan mengecilkan semangat. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam kemampuan. Jika tidak ia justru ngambek. Jadi yang penting ialah memahami kemampuan dan minatnya. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang realistis. Tuntutan yang tidak realistis justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.
Jangan Ambisius
Anda tak perlu ambisius. Sikap itu justru akan melelahkan Anda dan membebani anak. Ada dua kesalahan umum dilakukan oleh orang tua, termasuk Anda. Pertama menuntut anak seperti dirinya dan kedua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acap diperbuat oleh orang tua yang memiliki kemampuan tertentu. Masalahnya adalah, tidak selalu anak mewarisi bakat orang tua dan tidak semua anak mempunyai minat sama dengan orang tuanya.
Kesalahan kedua acap terjadi pada orang tua yang merasa dirinya kurang atau ada cacatnya. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangan agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Tetapi masalahnya adalah belum tentu anaknya berminat. Maka hindari pemaksaan.
Powered by Blogger.